Ketika Air Bersih Menjadi Kebutuhan Mendesak Warga Keranggan

PMI Kota Tangsel menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Kampung Keranggan dan Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Sebanyak 16.000 liter air bersih didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga.

PUSTAKA KOTA, Tangsel — Air bersih kembali didistribusikan ke warga Kampung Keranggan dan Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), pada Sabtu, (26/9/2026) lalu.

Sebanyak 16.000 liter air bersih siap minum disalurkan Palang Merah Indonesia (PMI) Tangsel guna memenuhi kebutuhan warga yang mengalami keterbatasan akses air bersih.

Bantuan itu bukan kali pertama datang. PMI Tangsel telah memasuki pekan kedua distribusi air bersih di wilayah tersebut. Kebutuhan warga menjadi alasan organisasi kemanusiaan ini melanjutkan penyaluran.

Menurut Kepala Markas PMI Kota Tangsel, Slamet Purnama, air bagi warga bukan sekadar untuk diminum. Ketersediaannya menyentuh hampir seluruh aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Ia mengatakan, PMI akan terus memantau kondisi warga sebelum menentukan langkah berikutnya.

“Ini merupakan bantuan kedua pada September kami menyalurkan air bersih kepada masyarakat di wilayah Keranggan dan Koceak. Amanat dari Ketua PMI Kota Tangesel adalah memastikan PMI hadir dan bergerak ketika masyarakat membutuhkan,” kata Slamet, ditulis Kamis (1/10/2026). 

Menurut dia, PMI tidak ingin bantuan berhenti pada kegiatan distribusi. Kondisi warga di lapangan menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah penyaluran perlu dilanjutkan.

“Kami akan terus melihat perkembangan kebutuhan di lapangan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak,” ujar Slamet.

Slamet menuturkan, pendistribusian air bersih menjadi bagian dari respons PMI terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Terlebih, keterbatasan akses air dapat berdampak langsung terhadap kesehatan dan aktivitas warga.

Slamet berujar, keberadaan PMI di tengah masyarakat bukan semata untuk memberikan bantuan, melainkan memastikan bantuan tersebut tepat guna.

“Bagi kami, aksi kemanusiaan bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Hingga saat ini, kata Slamet, PMI masih memantau kondisi di Keranggan dan Koceak untuk menentukan distribusi selanjutnya. Sebab, ketika air bersih sulit didapat, satu tangki bukan sekadar bantuan. Di dalamnya ada kebutuhan untuk minum, memasak, menjaga kebersihan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

“Bagi PMI, di situlah kerja kemanusiaan dimulai, datang ketika dibutuhkan, melihat kebutuhan di lapangan, lalu memastikan bantuan tidak berhenti sebagai angka dalam laporan,” pungkasnya. (Adv)