
PUSTAKA KOTA, Tangsel — Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, mengingatkan ancaman serius yang dihadapi anak-anak di era digital, mulai dari paparan konten negatif di media sosial, perundungan (bullying), hingga kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
Menurut Pilar, perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat pola parenting atau pengasuhan anak tidak lagi bisa dilakukan dengan pendekatan lama. Orang tua dituntut lebih adaptif dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah derasnya arus informasi digital.
“Anak-anak hari ini hidup pada era yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah dunia yang sangat cepat, serba digital, dan penuh pengaruh. Karena itu, pola pengasuhan tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara lama, tetapi perlu dibarengi dengan pemahaman, komunikasi, keteladanan, serta kedekatan emosional di dalam keluarga,” ucap Pilar ditulis Jumat (15/05/2026).
Dalam forum yang dihadiri guru, kepala sekolah, dan pegiat pendidikan tersebut, Pilar menilai orang tua dan tenaga pendidik kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, kata dia, membawa dampak positif sekaligus ancaman bagi tumbuh kembang anak apabila tidak disertai pengawasan dan pembatasan yang tepat.
Karena itu, Pilar meminta para orang tua dan guru lebih aktif mengawasi penggunaan gawai serta membatasi akses anak terhadap konten negatif di internet. Menurutnya, anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka lihat di media sosial.
“Kita kadang tidak tahu informasi apa yang didapat anak-anak setiap hari dari gawainya. Jangan sampai mereka terpapar konten yang tidak pantas atau kata-kata yang buruk, karena anak-anak adalah peniru yang sangat cepat. Makanya, kita perlu hadir untuk mengawasi itu dalam pola pengasuhan kita,” jelasnya.
Meski demikian, Pilar menegaskan teknologi digital tidak bisa dihindari karena telah menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan daya saing generasi muda.
“Kalau kita tidak menggunakan teknologi digital, kita akan tertinggal dari negara lain. Tetapi yang negatif harus kita bendung, sedangkan yang positif harus diarahkan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Pilar juga menyoroti maraknya kasus bullying dan kekerasan terhadap anak yang dinilai dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban maupun pelaku. Ia menegaskan Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah mendeklarasikan program Sekolah Aman dan Nyaman guna menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan.
“Kalau bercanda tidak masalah, tetapi kalau sudah bullying itu berbahaya. Anak yang dibully bisa kehilangan rasa percaya diri, sementara pelakunya bisa terbiasa melakukan kekerasan hingga dewasa,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kasus dugaan pencabulan anak di lingkungan sekolah yang sempat terjadi dan meminta seluruh pihak lebih waspada terhadap potensi kekerasan seksual terhadap anak.
Menurut Pilar, pendidikan seksual dasar perlu diberikan sejak dini agar anak memahami batasan terhadap tubuh mereka dan berani melapor apabila mengalami tindakan tidak pantas.
“Pendidikan seksual bukan mengajarkan hal yang negatif, tetapi mengenalkan bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain,” tuturnya.
Selain itu, Pilar mengajak para guru meninggalkan pola pendidikan lama yang identik dengan kekerasan fisik maupun pendekatan yang menakutkan terhadap siswa.
“Sekarang zamannya berbeda. Guru bukan untuk ditakuti, tetapi menjadi pengayom. Anak-anak sekarang lebih kritis dan berani menyampaikan pendapatnya,” katanya.
Menurut dia, pendekatan pendidikan yang lebih interaktif dan menyenangkan akan membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran sekaligus tumbuh dengan karakter yang sehat.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Pilar juga mengingatkan pentingnya membentuk generasi yang adaptif dan memiliki daya saing tinggi.
“Sekarang ini kita hidup di era AI. Banyak pekerjaan yang perlahan mulai tergantikan oleh teknologi. Namun, jika anak-anak mampu menguasai teknologi dan memanfaatkannya secara bijak, mereka akan memiliki daya saing yang kuat di masa depan,” ucapnya.
Pilar menegaskan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan lembaga sosial menjadi kunci dalam membangun generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.
“Pada hakikatnya, parenting bukan hanya soal membesarkan anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” pungkasnya. (Adv)




