Dari Barang Bekas Menjadi Tempat Sampah Pilah, Pemprov DKI Dorong Budaya Kelola Sampah dari Sumber

Pengunjung memadati area Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 di Balai Kota DKI Jakarta. Dalam rangkaian acara tersebut, Pemprov DKI Jakarta mengumumkan pemenang Balai Kota Eco Creative, lomba pembuatan tempat sampah pilah berbahan material bekas sebagai upaya memperkuat budaya memilah sampah dari sumber.

PUSTAKA KOTA, Jakarta — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mendorong budaya memilah sampah sejak dari sumber melalui pendekatan yang kreatif dan partisipatif.

Salah satunya diwujudkan lewat Balai Kota Eco Creative, sebuah lomba pembuatan tempat sampah pilah berbahan material bekas yang digelar Biro Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan di kawasan Kompleks Balai Kota. Berbagai material bekas yang sebelumnya tidak lagi dimanfaatkan diolah kembali menjadi tempat sampah pilah yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengelolaan sampah, tetapi juga media edukasi bagi aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat.

Kepala Biro Umum dan Administrasi Setda Provinsi DKI Jakarta Syony Tjahjadi mengatakan, Balai Kota Eco Creative dirancang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan kembali barang-barang bekas.

“Kompetisi ini tidak hanya mendorong kreativitas, tetapi juga memperkuat edukasi agar pemilahan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya. Para peserta membuat empat jenis tempat sampah pilah dengan pewarnaan yang mengikuti ketentuan dalam Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber,” ungkap Syony, Rabu (8/7/2026). 

Syony menjelaskan, lomba yang berlangsung pada 12-29 Juni 2026 tersebut diikuti 86 Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) yang terbagi dalam 18 tim. Peserta berasal dari berbagai unit layanan di lingkungan Biro Umum dan Administrasi Setda DKI Jakarta, mulai dari jaringan listrik, bangunan gedung, jaringan air dan telekomunikasi, pelayanan Balai Kota, hingga unsur pengamanan.

“Seluruh karya dibuat dengan memanfaatkan material bekas hasil pemilahan sampah harian di Kompleks Balai Kota, seperti pipa paralon, pipa bongkaran, kaleng bekas cat, hingga tutup botol minuman,” ujarnya. 

Tak hanya mengedepankan fungsi, Syony bilang, sejumlah karya juga menghadirkan unsur budaya Betawi sebagai identitas lokal. Bahkan, beberapa tim melengkapi tempat sampah dengan teknologi sederhana berupa sensor suara, sensor lampu, hingga sensor pendeteksi kapasitas sampah.

“Ini menunjukkan bahwa inovasi lingkungan dapat tumbuh dari lingkungan kerja sendiri. Barang bekas yang semula tidak terpakai dapat diolah menjadi sarana edukasi yang menarik, fungsional, dan berpotensi terus dikembangkan,” kata Syony.

Para pemenang Balai Kota Eco Creative diumumkan dalam rangkaian Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 dan Biro Umum Awards 2026.

Sementara Ketua penyelenggara Balai Kota Eco Creative, Riezka Novia Bewinda, berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin mengingat tingginya antusiasme peserta serta dukungan dari pimpinan.

“Saya banyak mendapat tanggapan positif baik dari pimpinan maupun ASN di lingkungan Balai Kota mengenai kegiatan ini. Selain memanfaatkan barang bekas menjadi tempat sampah yang bernilai seni,” tuturnya.

Menurut Riezka, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para PJLP untuk menunjukkan kemampuan berinovasi melalui pemanfaatan teknologi sederhana.

“Tentu potensi para PJLP perlu digali sehingga menjadi produk nyata yang berdaya guna di Balai Kota,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menilai Balai Kota Eco Creative menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan.

“Kami mengapresiasi Balai Kota Eco Creative karena kegiatan ini tidak hanya melahirkan karya-karya inovatif, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini menjadi contoh bahwa budaya pilah sampah dapat dibangun melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, dan melibatkan seluruh unsur di lingkungan kerja,” ucap Dudi.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari sumber. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi salah satu kunci dalam mengurangi timbulan sampah sekaligus mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Melalui Balai Kota Eco Creative, Pemprov DKI Jakarta berharap budaya memilah sampah tidak hanya menjadi kebiasaan di lingkungan pemerintahan, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk menerapkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. (Khf)