Kepala Daerah Tangerang Raya dan Provinsi Tak Hadir Dalam Undangan Event BKR 2026, Dosen FISIP UNIS Kota Tangerang Menyayangkan Ketidak Hadiran Pemangku Kebijakan

Tangerang, Pustaka Kota- Kritik yang dibalut dengan Tawa dan Hiburan menjadi salah satu kegiatan yang dikemas oleh Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ilkom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, dalam menyampaikan aspirasi kepada para pemangku kebijakan.

Read More

Dengan mengelar Badan Komunikasi Rakyat atau BKR 2026 yang bertemakan “Tawa dalam Doa” berlangsung di area Kantin Unis Kota Tangerang, pada 8 Juli 2026.

Dalam event tersebut, panitia penyelenggara mengundang Kepala daerah Tangerang dan Provinsi yang nantinya sebagai pendengar dari aspirasi yang di sampaikan, yang dibalut dengan Stand Up Comedy. Namun tak satupun kepala daerah dan provinsi yang hadir dalam acara tersebut.

Meski para pemangku kebijakan tak hadir dalam acara tersebut, acara event BKR tetap meriah karena diisi oleh empat Stand Up Comedy ternama dan para penggiat content kreator salah satunya Madun Oseng.

Dosen Fisip UNIS Kota Tangerang Miftahul Adib mengatakan, kegiatan ini adalah event dari teman-teman mahasiswa-mahasiswi UNIS dalam Badan Komunikasi Rakyat. Ini sebagai jembatan komunikasi kepada khususnya Gen Z, bahwa teman-teman itu memiliki kritik yang solutif, kritik membangun terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah khususnya di Tangerang Raya dan di daerah di Banten.

“Jadi ini adalah sebuah wadah sebetulnya, bagi teman-teman berusaha mengungkapkan aspirasi kepada segmentasi yang tepat terutama khususnya segmen Gen Z. Ini mata kuliah sebetulnya, mereka membuat praktek. Saya dosen pengampunya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi wadah ke depan yang bisa terus diadakan, bahwa Badan Komunikasi Rakyat itu sebagai media untuk menjembatani komunikasi-komunikasi kepada pemangku kepentingan” ujar Adib kepada Sejumlah Awak Media.

Sementara dalam kegiatan event para pemangku kebijakan yang seharusnya menjadi pendengar dari aspirasi yang di sampaikan oleh peserta, tak satupun hadir dalam kegiatan event tersebut.

“kalau saya, kami ya teman-teman adik-adik mahasiswa suguh menyayangkan karena sebetulnya yang paling perlu, paling berkepentingan itu harusnya para pemangku kepentingan. Kami menyediakan wadah bersama dengan para komika berusaha menghadirkan bahwa setiap tawa itu ada doa, setiap tawa itu ada kritik. Seharusnya mereka mampu mendengar, ini loh keresahan-keresahan publik yang berusaha disuarakan oleh mereka” ujar Adib.

Menurut Adib, dalam kegiatan ini
yang paling berkepentingan harusnya para pemangku kebijakan, sementara mahasiswa dari akademisi menjembatani dari aspirasi yang di sampaikan oleh masyarakat.

“Kami kan menjembatani dalam kerangka akademis. Bahwa kritik itu, bisa dengan adab, bisa dengan kerangka akademis dengan pakai data, bukan hanya nyinyir begitu ya. Tetapi ya tentunya kami ya kecewa, tetapi kan apa boleh buat, mungkin mereka punya agenda yang lain begitu” ucapnya.

Adib menambahkan, Badan Komunikasi Rakyat kedepannya akan dibuat masif, karena ini adalah era digitalisasi informasi, era teknologi informasi, sekaligus era diskripsi informasi. Sehingga mereka  harus aware secara berkomunikasi dengan anak muda, Gen Z, terutama teman-teman mahasiswa yang didominasi oleh Gen Z sekarang.

“Suara mereka itu sangat relevan untuk didengar. Karena bagaimanapun mereka yang akan menentukan kebijakan-kebijakan juga ke depan. Pelibatan masyarakat secara aktif itu juga bagian penting dari suksesnya pembangunan” terang Adib

Related posts