Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyentuh Tangsel, Ancaman Tak Terlihat di Balik Debu

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie

PUSTAKA KOTA, Tangsel – Sekilas, abu yang menempel di badan jalan terlihat seperti debu biasa. Namun, ketika kendaraan melintas dan angin berembus, partikel itu kembali beterbangan dan masuk ke udara yang dapat dihirup masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) setelah dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan hingga ke berbagai wilayah termasuk Tangsel.

Abu vulkanik bukan sekadar persoalan jalan yang kotor. Partikel berukuran sangat kecil dapat mengganggu saluran pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, serta mengurangi jarak pandang pengguna jalan.

Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan.

Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie meminta masyarakat mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi pemerintah dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Untuk itu, saya mengajak kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada,” kata Benyamin, ditulis Rabu (9/9/2026).

Benyamin juga mengingatkan warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, melindungi mata serta memperbanyak konsumsi air putih.

Saat Debu Tak Lagi Sekadar Debu

Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, keberadaan abu vulkanik perlu diwaspadai. Partikel yang terhirup dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok yang sensitif terhadap kualitas udara.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang penting.

Menurutnya, masker N95 dianjurkan karena mampu menyaring partikel berukuran kecil. Jika tidak tersedia, masyarakat dapat menggunakan masker medis sebagai perlindungan.

Selain pernapasan, mata juga perlu dilindungi. Kacamata dapat digunakan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko iritasi akibat paparan abu.

“Masyarakat yang mengalami batuk, sesak atau gangguan pernapasan, mata merah dan perih, maupun iritasi kulit setelah terpapar abu vulkanik diminta segera mengurangi paparan dan memeriksakan kondisi ke fasilitas kesehatan,” paparnya. 

Jalan Disemprot, Abu Ditekan agar Tak Kembali Terbang

Dampak abu vulkanik juga terlihat pada sejumlah ruas jalan. Endapan abu yang terinjak atau dilintasi kendaraan berpotensi kembali beterbangan dan memperburuk kualitas udara di sekitar jalan.

Untuk mengantisipasinya, Pemerintah Kota Tangsel melakukan penyemprotan sejumlah ruas jalan secara berkala.

Penyemprotan dimulai sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan armada pemadam kebakaran. Penanganan dilakukan dengan metode dust suppression, yakni membasahi abu yang mengendap sehingga tidak mudah kembali beterbangan.

Tiga koridor menjadi sasaran penanganan, yakni Terminal BSD–Jalan Ciater Raya–Bundaran Maruga, Pamulang Square–Sasak, serta kawasan Stasiun Rawa Buntu–Melati Mas dan sebaliknya. Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan turut memimpin penanganan tersebut.

“Penyemprotan ini kita lakukan untuk membasahi abu vulkanik yang mengendap di badan jalan, sehingga tidak kembali beterbangan akibat kendaraan maupun angin dan mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Pilar.

Pilar berujar, penanganan dilakukan pada malam hingga dini hari untuk mengoptimalkan proses pembersihan sekaligus meminimalkan gangguan terhadap aktivitas warga.

Sejumlah unsur dilibatkan, mulai dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, BPBD, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, DSDABMBK, hingga Polres Tangsel, Kodim 0506 Tangerang dan pihak pengembang.

Perlindungan Dimulai dari Hal Sederhana

Pilar mengatakan, di tengah kondisi tersebut, masyarakat tidak harus menunggu pemerintah untuk melakukan perlindungan diri.

“Ketika abu vulkanik terlihat pekat, warga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar, gunakan masker yang sesuai dan lindungi mata,” tuturnya. 

Pilar menjelaskan, abu yang masuk ke mata dapat dibilas menggunakan air bersih. Sementara abu yang mengendap di lingkungan rumah sebaiknya dibersihkan dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan.

“Penggunaan air untuk membasahi abu dapat menjadi salah satu cara mengurangi partikelnya beterbangan,” ucapnya. 

Ia mengimbau, masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan asap karena dapat semakin menurunkan kualitas udara. Yang tidak kalah penting, warga perlu mengandalkan informasi dari kanal resmi pemerintah maupun lembaga berwenang terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Sebab, dalam situasi bencana, informasi yang benar merupakan bagian dari perlindungan,” ungkapnya. 

Sebagai informasi, erupsi gunung api memang terjadi jauh dari pusat aktivitas masyarakat Tangsel. Namun, abu vulkanik mengingatkan bahwa dampak bencana alam tidak selalu berhenti di sekitar sumbernya.

Kadang, ancamannya datang dalam bentuk yang nyaris tak terlihat hingga menempel di jalan, beterbangan tertiup angin, lalu masuk bersama udara yang dihirup. (Adv)