Stunting Tangsel Naik, Pemkot Bidik Turun ke 7,5 Persen pada 2026

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie

PUSTAKA KOTA, Tangsel — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan menjadi 7,5 persen pada 2026.

Target tersebut tetap dipertahankan meski berdasarkan data terbaru angka stunting di kota itu kembali meningkat menjadi sekitar 10 persen.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, penanganan stunting masih menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama pada anak-anak.

Menurut Benyamin, berbagai intervensi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan hasil yang positif. Angka stunting yang sebelumnya berada di kisaran 19 persen sempat berhasil ditekan hingga sekitar 9 persen sebelum kembali mengalami kenaikan.

“Sekarang naik memang menjadi 10 sekian persen. Salah satunya kenaikan itu adalah karena ada indikator tambahan dari kementerian teknis,” kata Benyamin ditulis Jumat (10/7/2026). 

Ia menjelaskan, kenaikan angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya kondisi di lapangan. Perubahan metode dan penambahan indikator dalam pengukuran dari kementerian teknis turut memengaruhi hasil pendataan.

Meski demikian, Benyamin menegaskan pemerintah kota tidak akan menjadikan perubahan angka tersebut sebagai alasan untuk mengendurkan upaya percepatan penurunan stunting.

“Berapa pun angka itu, alhamdulillah ikhtiar kita tidak sia-sia. Tapi memang kita ingin terus menekan angka stunting ini,” ujarnya.

Untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting, Benyamin menugaskan Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan memimpin Tim Percepatan Penurunan Stunting yang melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).

“Kita intervensi, makanya yang pertama Pak Wakil saya tugaskan menjadi ketua tim percepatan penurunan stunting dengan seluruh OPD yang terkait,” katanya.

Pemkot Tangsel juga mengandalkan Tim Ngider Sehat Premium bersama kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Keduanya berperan mengidentifikasi kebutuhan kesehatan warga sejak dini, termasuk mendeteksi anak berisiko stunting dan memastikan intervensi gizi dapat segera diberikan.

Menurut Benyamin, upaya tersebut dilakukan melalui pendataan kondisi kesehatan keluarga, pemberian makanan tambahan (PMT), serta pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi anak-anak yang membutuhkan.

“Ngider Sehat sama kader Posyandu, kita dorong untuk terus melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat seperti apa, misalnya PMT, pemberian makanan tambahan, pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak khusus misalnya. Itu kita lakukan,” kata Benyamin. (Adv)