PUSTAKA KOTA, Jakarta – Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia (ALDEI) bersama pelaku industri pos dan logistik menyatakan komitmen untuk melakukan konsolidasi sektor logistik nasional guna menekan biaya logistik yang masih tinggi di Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam forum DEAL (Digital Ecosystem Alignment) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang digelar di Tribrata Convention Center, Jakarta, Selasa (23/6/2026), dan dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Ketua Umum ALDEI Imam Sedayu Pusponegoro mengatakan konsolidasi diperlukan agar pelaku industri dapat berbagi infrastruktur dan jaringan logistik yang selama ini belum optimal digunakan.
“Konsolidasi akan mendorong antar pelaku perusahaan pos dan kurir saling berbagi infrastruktur dan jaringan—gudang, transportasi di first mile, middle mile, hingga last mile, yang saat ini utilisasinya masih sangat rendah, kurang dari 50 persen,” ujar Imam dalam keterangannya, Selasa.
Menurut dia, peningkatan utilisasi jaringan melalui konsolidasi dapat membantu menurunkan biaya pengiriman sekaligus meningkatkan efisiensi layanan logistik nasional.
ALDEI mencatat, biaya logistik di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 14 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan negara maju.
Selain itu, terdapat kesenjangan biaya yang cukup lebar antara wilayah Jawa dan luar Jawa, masing-masing sekitar 5–10 persen di Jawa dan 20–40 persen di luar Jawa.
Lebih dari 60 persen distribusi barang juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Imam menambahkan, konsolidasi juga akan membuka ruang pemanfaatan teknologi bersama di sektor logistik, mulai dari kecerdasan buatan (AI), robotik, hingga sistem otomatisasi untuk perencanaan kapasitas dan optimasi rute pengiriman.
“Dengan ratusan juta hingga miliaran data traffic yang beredar dan kompleksitas proses yang menjangkau seluruh kepulauan Indonesia, digitalisasi sudah menjadi keharusan,” katanya.
Saat ini, sektor logistik nasional menangani sekitar 25 juta paket per hari, yang mayoritas berasal dari aktivitas e-commerce dan social commerce.
ALDEI menyebutkan sejumlah skema konsolidasi yang dapat dilakukan industri, antara lain kolaborasi operasional melalui pemanfaatan jaringan bersama, integrasi platform teknologi untuk pelacakan pengiriman, hingga peluang merger dan akuisisi antar pelaku usaha.
Komitmen konsolidasi ini juga melibatkan sejumlah perusahaan besar seperti Pos Indonesia, SiCepat, Anteraja, SAPX, JNE, Lion Parcel, serta ASPERINDO.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyambut baik inisiatif tersebut dan menilai penguatan ekosistem digital menjadi kunci pertumbuhan ekonomi digital berkelanjutan di Indonesia.
Meski demikian, ALDEI mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses konsolidasi, seperti perbedaan standar operasional, persaingan usaha, ego sektoral, hingga tumpang tindih regulasi.
Namun, mereka menilai konsolidasi penting untuk mewujudkan industri logistik nasional yang lebih efisien, inklusif, dan berdaya saing, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. (HFZ)

