Modal Awal Rp 27 Juta, Kini Koperasi Cempaka Putih Jadi yang Terbesar di Tangsel

Peletakan batu pertama pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan fasilitas pendukung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kota Tangsel. Pembangunan ini menjadi langkah awal penguatan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan koperasi modern yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar.

PUSTAKA KOTA, Tangsel – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, tercatat sebagai koperasi dengan omzet terbesar di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). 

Koperasi yang baru beroperasi sejak November 2025 itu kini memiliki 170 anggota dan mampu membukukan omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Read More

Ketua Koperasi Merah Putih Cempaka Putih, Iwan Firdaus, mengatakan koperasi yang dipimpinnya mulai berjalan dengan modal swadaya para pengurus. Berawal dari iuran sukarela sembilan pengurus senilai sekitar Rp27 juta, koperasi tersebut kini berkembang menjadi salah satu unit usaha masyarakat yang aktif melayani kebutuhan pokok warga.

“Kita berdiri dari modal swadaya pengurus. Modal awal sekitar Rp 27 juta, lalu berkembang hingga sekarang,” kata Iwan, ditulis Rabu (10/6/2026).

Iwan mengatakan, pada bulan pertama beroperasi, koperasi mencatat omzet sekitar Rp57 juta. Angka tersebut kemudian mencapai Rp43 juta pada Desember 2025. 

Ia mengaku, peningkatan signifikan terjadi menjelang Idul Fitri 2026, ketika omzet melonjak hingga sekitar Rp120 juta.

Menurut Iwan, lonjakan tersebut didorong oleh penjualan paket hampers berisi sembako yang banyak diminati masyarakat maupun institusi.

“Omzet terbesar pada saat Lebaran lalu sekitar Rp120 juta. Kami menerima pesanan sekitar 800 paket hampers, termasuk dari salah satu sekolah di Jakarta yang memesan 483 paket,” ungkapnya.

Saat ini, Koperasi Merah Putih Cempaka Putih berfokus pada penjualan kebutuhan pokok atau sembako. Berbagai produk tersedia di gerai koperasi, mulai dari minyak goreng, beras, telur, hingga gas LPG subsidi ukuran 3 kilogram.

Iwan menjelaskan, sembako dipilih sebagai lini usaha utama karena merupakan kebutuhan yang selalu dicari masyarakat.

“Kami memilih sembako karena menyentuh hajat hidup orang banyak. Kebutuhan ini selalu dicari warga,” katanya.

Masih menurutnya, berbeda dengan usaha komersial pada umumnya, koperasi berupaya menjual barang dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar.

Ia mencontohkan, minyak goreng Minyakita dijual Rp18.500 per liter, sementara harga di pasaran berkisar Rp21 ribu hingga Rp22 ribu. Telur dijual Rp25 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga umum yang mencapai Rp26 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram.

Untuk LPG subsidi 3 kilogram, koperasi telah ditunjuk sebagai subpangkalan Pertamina. Dengan status tersebut, koperasi memperoleh harga dasar Rp16 ribu per tabung dan menjualnya kepada masyarakat seharga Rp 18.500, di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp19 ribu.

“Harga LPG kita jual Rp 18.500. Saat ini kami memiliki sekitar 100 tabung dengan perputaran penjualan sekitar lima hari,” ujar Iwan.

Agar dapat mempertahankan harga yang kompetitif, pengurus koperasi aktif mencari pemasok dengan harga terbaik dan mengambil margin keuntungan yang relatif kecil.

“Kami mencari supplier yang paling murah. Untuk telur misalnya, kami mengambil langsung dari agen. Keuntungan setiap barang rata-rata hanya sekitar Rp 500 sampai Rp 1.000,” pungkasnya.

Selain melayani masyarakat umum, koperasi juga terus memperluas jumlah anggotanya. Hingga saat ini tercatat sebanyak 170 warga Kelurahan Cempaka Putih telah bergabung sebagai anggota.

Untuk menjadi anggota, warga diwajibkan mengisi formulir pendaftaran, membayar simpanan wajib satu kali sebesar Rp50 ribu, serta iuran pokok Rp20 ribu setiap bulan.

Iwan menuturkan, anggota memperoleh sejumlah manfaat, salah satunya pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) yang diberikan berdasarkan kinerja koperasi setiap tahun buku.

Selain itu, anggota juga mendapatkan harga khusus yang lebih murah, voucher belanja untuk pembelian dalam jumlah tertentu, hingga layanan antar barang ke rumah.

“Anggota mendapatkan SHU, harga spesial yang lebih murah, voucher belanja, dan layanan antar ke rumah untuk setiap pembelian,” kata Iwan.

Dengan pertumbuhan anggota dan peningkatan omzet yang terus terjadi, Koperasi Merah Putih Cempaka Putih menjadi salah satu contoh koperasi berbasis masyarakat yang mampu berkembang melalui modal swadaya serta pengelolaan usaha yang berorientasi pada pelayanan warga. (Adv)

Related posts