PUSTAKA KOTA, Tangsel — Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meningkat 19,8 persen dalam sepekan.
Dinas Kesehatan Kota Tangsel mencatat 5.802 kasus ISPA pada pekan ke-35 pada tahub 2026, naik dari 4.844 kasus pada pekan sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan kenaikan tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurut dia, tren peningkatan kasus ISPA telah terlihat sebelum peristiwa sebaran abu vulkanik terjadi.
“Data tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik,” kata Allin dalam keterangan tertulis, Rabu, (9/9/2026).
Allin bilang, dinas kesehatan mencatat secara kumulatif terdapat 148.370 kasus ISPA sepanjang pekan pertama hingga pekan ke-35 pada tahun 2026. Kasus terbanyak tercatat di Kecamatan Serpong dengan 38.366 kasus.
Berikutnya, Kecamatan Pamulang mencatat 27.293 kasus, Ciputat 26.895 kasus, Pondok Aren 22.170 kasus, Ciputat Timur 19.694 kasus, Setu 8.637 kasus, dan Serpong Utara 5.315 kasus.
Menurut Allin, peningkatan kasus ISPA dipengaruhi dari berbagai faktor, seperti perubahan cuaca dan kondisi kualitas udara yang perlu diperhitungkan dalam membaca tren penyakit tersebut.
“Kami belum memastikan keterkaitan antara peningkatan ISPA dan abu vulkanik, kami terus meningkatkan pemantauan kesehatan masyarakat,” ucapnya.
Lanjut Allin, surveilans dilakukan dengan melihat perkembangan kasus berdasarkan waktu dan wilayah serta kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit. Pemantauan kualitas udara, terutama konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10, juga dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait.
Allin menjelaskan, abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan. Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, rasa berat di dada hingga sesak napas. Paparan juga berpotensi memperburuk kondisi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, dan penyakit paru lainnya.
“Selain saluran pernapasan, abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit serta mencemari air dan makanan apabila tidak terlindungi,” tuturnya.
Allin menerangkan, kelompok rentan menjadi perhatian khusus dari pihak dinas kesehatan, antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta masyarakat yang memiliki asma, PPOK, penyakit paru, dan penyakit kronis lainnya.
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kota Tangsel mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berdebu. Warga yang harus beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker serta melindungi mata dan kulit.
“Sumber air dan makanan juga perlu ditutup untuk mencegah kontaminasi. Masyarakat diminta tidak membakar sampah secara terbuka karena dapat memperburuk kualitas udara,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan Kota Tangsel menyatakan pemantauan akan terus dilakukan. Perkembangan situasi akan disampaikan berdasarkan hasil surveilans, kondisi kualitas udara, dan analisis epidemiologis. (Gun)
