Bank Jakarta Bantu Modal Pedagang, Keuntungan Jual Bawang Naik 4 Kali Lipat

PUSTAKA KOTA, Jakarta – Rosmani Sitohang, pedagang bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, merasakan perubahan pada usahanya setelah mendapat pembiayaan modal dari Bank Jakarta.

Read More

Rosmani yang telah berdagang bawang merah sejak 2015 itu memperoleh pembiayaan sebesar Rp108 juta. Modal tersebut digunakan untuk memperbesar perputaran perdagangan bawang merah yang dijalankannya.

Menurut Rosmani, tambahan modal tersebut turut meningkatkan keuntungan yang diperolehnya hingga empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.

“Program pembiayaan pedagang pasar ini sangat membantu untuk mengembangkan usaha saya. Keuntungannya sekarang bisa sampai empat kali lipat,” ujar Rosmani saat ditemui dalam acara Akad Massal Program Pembiayaan Pedagang Pasar Induk Kramat Jati di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026).

Bagi Rosmani, akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pedagang untuk menjaga kelangsungan sekaligus mengembangkan usaha.

Karena itu, ia berharap program pembiayaan yang digulirkan Bank Jakarta dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pedagang pasar.

“Program seperti ini sangat dirasakan manfaatnya oleh pedagang. Harapannya bisa terus berlanjut,” katanya.

Ada yang Pakai untuk Sewa Kios

Manfaat pembiayaan juga dirasakan Ika Tiara, pedagang sembako di Pasar Induk Kramat Jati.

Ika mengaku telah beberapa kali mendapatkan fasilitas pembiayaan modal dari Bank Jakarta. Pada tahap sebelumnya, ia memperoleh pembiayaan sebesar Rp500 juta.

Sementara pembiayaan terakhir yang diterimanya mencapai Rp400 juta.

Berbeda dengan Rosmani yang menggunakan modal untuk memperbesar perputaran usaha, Ika memanfaatkan sebagian pembiayaan tersebut untuk membayar sewa kios dalam jangka panjang.

Dana tersebut digunakan untuk membiayai sewa tempat usaha selama 20 tahun ke depan.

Menurut Ika, kepastian tempat berdagang menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usahanya.

Dengan adanya pembiayaan tersebut, ia dapat lebih fokus mengembangkan usaha sembako yang dijalankannya.

“Manfaatnya besar banget bagi pedagang untuk mengembangkan usaha,” ujar Ika.

Ika mengatakan usaha sembako yang dijalankannya terus mengalami peningkatan setelah mendapatkan dukungan pembiayaan dari Bank Jakarta.

Kemudahan akses modal dinilainya memberi ruang bagi pedagang untuk memperkuat bisnis sekaligus meningkatkan skala usaha.

“Sebelumnya saya sudah mendapat pembiayaan Rp500 juta, kemudian terakhir Rp400 juta. Usaha saya terus meningkat setelah mendapatkan pembiayaan dari Bank Jakarta,” tuturnya.

Bank Jakarta Perluas Pembiayaan

Pengalaman Rosmani dan Ika menjadi gambaran pemanfaatan pembiayaan bagi pedagang Pasar Induk Kramat Jati.

Dalam kegiatan Akad Massal Program Pembiayaan Pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta kembali memberikan akses pembiayaan kepada pedagang.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyaksikan penandatanganan akad kredit massal bagi 100 pedagang.

Pembiayaan diberikan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan plafon pinjaman hingga Rp500 juta.

“Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha,” ujar Rano.

Rano optimistis dukungan permodalan tersebut dapat meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di Pasar Induk Kramat Jati.

Menurut dia, tambahan modal dapat membantu pedagang mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Rano juga mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya yang dinilainya konkret dalam mendukung UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Dari lebih dari 5.000 pelaku usaha yang ada di Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta telah menyalurkan program pembiayaan kepada 167 pedagang dengan total nominal sekitar Rp48 miliar.

Rano berharap kegiatan akad kredit massal tersebut dapat menarik lebih banyak pedagang Pasar Induk Kramat Jati untuk mengikuti program pembiayaan UMKM dari Bank Jakarta.

Meski akses pembiayaan diperluas, Rano mengingatkan agar hal tersebut diikuti dengan peningkatan literasi keuangan.

Menurut dia, kemampuan mengelola keuangan secara sehat penting agar pelaku UMKM dapat memanfaatkan pembiayaan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

“Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain,” tegasnya. (HFZ)

Related posts