PUSTAKA KOTA.Tangsel — Sejarah Kota Tangerang Selatan tidak hanya tersimpan dalam dokumen pemerintahan. Jejak masa lalu juga tersebar di bangunan, benda peninggalan, makam, batu nisan, hingga cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Berangkat dari kepedulian terhadap jejak sejarah tersebut, Historia Tangerang Selatan yang semula merupakan komunitas pecinta sejarah terus berkembang. Kini, organisasi tersebut hadir melalui Yayasan Historia Tangsel dengan fokus pada penelitian, kajian, dan literasi sejarah serta budaya Kota Tangerang Selatan.
Ketua Umum Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas Lumbah, mengatakan perjalanan Historia Tangsel bermula dari komunitas yang memiliki perhatian terhadap sejarah lokal.
“Awalnya Historia Tangsel ini hanya sebuah komunitas pecinta sejarah. Kemudian berkembang karena adanya gagasan dari beberapa tokoh, termasuk almarhum Haji Arsid, dan mendapat dukungan dari Bang Pilar yang saat itu menjabat sebagai wakil wali kota,” ujar Agam. Minggu (20/9/2026).
Seiring perkembangan kegiatan dan semakin luasnya kajian, komunitas tersebut kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Yayasan Historia Tangerang Selatan.
Menurut Agam, perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja-kerja penelitian dan pendokumentasian sejarah lokal secara lebih terstruktur.Historia Tangsel memusatkan perhatian pada berbagai sumber sejarah yang berada di wilayah Tangerang Selatan.
Kajian dilakukan terhadap benda-benda peninggalan masa lalu, bangunan bersejarah, makam, batu nisan kuno, hingga berbagai sumber literasi yang dapat membantu mengungkap perjalanan terbentuknya wilayah Tangerang Selatan.
“Concern kami adalah bagaimana sejarah dan budaya yang ada di Tangerang Selatan ini bisa diteliti dan didokumentasikan. Termasuk peninggalan lama, bangunan, makam, batu nisan, dan berbagai jejak yang bisa menjadi sumber untuk memahami perjalanan daerah ini,” kata Agam.
Kajian tersebut tidak berhenti pada sejarah Kota Tangerang Selatan secara umum. Historia Tangsel juga berupaya menelusuri sejarah di tingkat kecamatan dan kelurahan.Dengan demikian, setiap wilayah memiliki kesempatan untuk mengungkap cerita mengenai asal-usul, perkembangan, serta berbagai peristiwa yang membentuk identitas wilayahnya.
Dalam melakukan penelitian, Historia Tangsel juga mengembangkan jejaring dengan berbagai lembaga yang memiliki sumber dokumentasi sejarah dengan memanfaatkan Arsip dan Sumber Sejarah Salah satunya melalui keterkaitan dengan Leiden University di Belanda yang menyimpan berbagai dokumen sejarah dari masa pemerintahan kolonial Belanda.Selain itu, sumber penelitian juga diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).Agam mengatakan keberadaan sumber-sumber tersebut penting untuk membantu peneliti melakukan penelusuran secara lebih mendalam.
“Kalau kita ingin mengetahui sejarah sebuah wilayah, kita tidak cukup hanya mengandalkan cerita yang berkembang di masyarakat. Kita perlu mencari sumber, membandingkan informasi, dan melihat dokumen yang tersedia supaya sejarah yang kita sampaikan memiliki dasar,” tuturnya.
Dalam perjalanannya, Historia Tangsel kemudian mengembangkan metode lain untuk memperluas literasi sejarah kepada masyarakat.
Kajian lapangan dan penelitian kemudian dipadukan dengan forum dialog melalui Historia The Series.Program tersebut dikemas dalam dialog interaktif yang menghadirkan tokoh nasional maupun tokoh dari Tangerang Selatan. Kegiatan digelar secara berseri dan disiarkan melalui kanal YouTube Historia Tangsel.
Program yang dimulai pada 7 Desember itu terus berjalan secara berkala dan kini telah memasuki Part 20, setelah sempat dihentikan sementara selama bulan Ramadan.Menurut Agam, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan hasil kajian dengan pengalaman dan pandangan para tokoh serta masyarakat.
“Kalau hanya melakukan pendataan dan penelitian di lapangan, ada banyak hal yang belum tentu bisa kita rangkum dalam sebuah dialog. Karena itu kami membuat Historia The Series, supaya sejarah dan persoalan kota bisa dibicarakan secara interaktif,” ujarnya.
Di ketahui perjalanan Historia Tangsel dari komunitas hingga menjadi yayasan menunjukkan upaya membangun ekosistem literasi sejarah lokal.Melalui penelitian, pengumpulan sumber, dokumentasi, dan dialog publik, Historia Tangsel diarahkan menjadi salah satu pusat rujukan bagi masyarakat yang ingin mengetahui sejarah Kota Tangerang Selatan.
Agam mengatakan cita-cita tersebut bukan sekadar membangun organisasi, tetapi memastikan perjalanan sejarah Tangsel terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Harapannya Historia Tangsel bisa menjadi salah satu barometer sejarah di Kota Tangerang Selatan. Artinya, ketika orang ingin mengetahui sejarah Tangsel, kita punya sumber, data, kajian, dan dokumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Agam.
Rangkaian Historia The Series juga akan dirangkum dalam sebuah buku bertajuk “Tangsel Bercerita di Usia 18 Tahun.” Buku tersebut direncanakan menjadi dokumentasi perjalanan program sejak Desember hingga penutupan rangkaian kegiatan pada awal November, sekaligus bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah Kota Tangerang Selatan.
“Buku tersebut akan di Launching pada perayaan HUT Tangsel tahun depan” Tutupnya (Cep)
