879 Anak di Tangsel Masih Stunting, Pemerintah Perkuat Pos Gizi

Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan menyampaikan sambutan dalam peresmian Pos Gizi Matahari di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bakti Jaya, Kecamatan Setu, Kota Tangsel, Selasa (22/9/2026).

PUSTAKA KOTA, Tangsel – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperkuat intervensi pencegahan stunting melalui pengembangan pos gizi di tingkat lingkungan. Salah satunya dengan meresmikan Pos Gizi di RW 07, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Setu.

Read More

Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan pos gizi menjadi salah satu sarana intervensi untuk memantau sekaligus memperbaiki kondisi gizi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

“Pos gizi ini bisa menghadirkan sosialisasi, lalu juga suatu program edukasi promotif preventif bagi ibu-ibu yang hamil, menyusui dan juga tentu bermanfaat juga untuk balita,” kata Pilar, Selasa (22/9/2026). 

Pilar yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Tangsel menjelaskan, program pos gizi tidak hanya berorientasi pada pemberian makanan tambahan saja, namun juga digunakan untuk memberikan edukasi mengenai pola makan bergizi serta upaya promotif dan preventif kepada keluarga.

“Supaya gizi-gizi anak kita bisa terjaga dengan baik,” ucapnya. 

Pilar menerangkan, tercatat hingga kini jumlah anak yang masuk dalam kategori stunting di Tangsel sekitar 879 anak atau kurang dari 1 persen. Meski angkanya relatif kecil, ia berujar, Pemkot Tangsel tetap melakukan intervensi agar jumlah kasus terus berkurang.

“Angkanya di bawah 1 persen. Tapi tentu itu tetap harus kita intervensi supaya angkanya terus menurun dan harapannya ke depan balita di Tangsel terbebas dari stunting,” ujarnya.

Pilar meminta dinas kesehatan melalui kadernya dan unsur kecamatan, memperkuat pelaksanaan program pos gizi di setiap wilayah dengan memberikan makanan tambahan dilakukan lima kali dalam sebulan.

“Angka partisipasinya cukup besar. Masyarakat merespons sekali dengan adanya program makanan tambahan ini. Dari segi berat badan juga meningkat, ibu hamil targetnya tercapai,” kata dia.

Namun, Pilar menyebut, peningkatan berat badan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan intervensi. Pertumbuhan dan perkembangan anak tetap perlu dipantau secara berkala, termasuk perkembangan otaknya.

“Kalau mau membangun sebuah kota, bangun dulu SDM yang unggul. Tidak bisa hanya Pemkot Tangsel sendiri berjuang membangun kota, diperlukan partisipasi masyarakat,” tuturnya.

Pilar meyakini, posyandu dan pos gizi dinilai penting untuk mendeteksi masalah pertumbuhan sejak dini. Intervensi terutama ditekankan pada periode seribu hari pertama kehidupan, sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Seribu hari pertama itu masa kritis seorang anak yang menentukan apakah dia ke depan stunting atau tidak,” ungkapnya. (Gun)

Related posts